Monday, May 23, 2011

Falsafah Hidup

Beberapa waktu yang lalu saya merasa sangat rendah diri. Kenapa? Setiap teman Beswan Djarum saya yang asli non-Jawa, masih mengingat falsafah hidup daerahnya. Seperti teman saya yang berasal dari Lampung, mengatakan kalau orang Lampung tuh hidupnya Wat piil pusanggiri, juluk adok, nemui-nyimah, nengah nyampur, sakai sambaian yang artinya sebagai berikut:

(1) piil-pusanggiri (malu melakukan pekerjaan hina menurut agama serta memiliki harga diri), (2) juluk-adok (mempunyai kepribadian sesuai dengan gelar adat yang disandangnya), (3) nemui-nyimah (saling mengunjungi untuk bersilaturahmi serta ramah menerima tamu), (4) nengah-nyampur (aktif dalam pergaulan bermasyarakat dan tidak individualistis), (5) sakai-sambaian (gotong-royong dan saling membantu dengan anggota masyarakat lainnya).

Sedangkan teman saya yang dari Padang, hidup orang Padang tuh “Hiduik baraka, ba ukue, jo bajangka” (Hidup berakal, terukur, dan berjangka). “kapalo samo hitam, pikiran ba lain-lain” (Rambut kepala sama hitam, tapi pendapat berbeda-beda). Oleh karena itu, perlu adanya “Saiyo, sakato” (se iya, se kata) atau yang dikenal adanya mufakat bersama. Selain itu menurutnya bahwa orang Padang memiliki jiwa enterpreneur yang tinggi “tahan hujan, barani bapaneh. Baitu urang mancari rasaki” (Tahan hujan, berani berpanas, begitu orang mencari rejeki). Selain itu, ceritanya dia sebagai orang Padang memegang teguh prinsip “Alam takambang jadi guru” (Alam terkembang jadi guru), artinya kami belajar dari alam sebagai guru kami. Etos kerja ini lah yang kami miliki sehingga kami terutama anak-anak muda Minang punya tanggung jawab dan kewajiban untuk merantau untuk mencari apa-apa yang dapat disumbangkan ke kampung halaman. Baik materi maupun ilmu. Misi ini lah yang menyebabkan Orang Minang terkenal di rantau sebagai orang ekonomi yang ulet.

Melihat mereka yang dengan bangganya menunjukkan bahwa mereka masih memegang teguh falsafah hidup tersebut, membuat saya merasa sangat minder! Bagaimana tidak, saya sebagai orang Jawa tidak tau pasti apa falsafah hidupnya.. kebanyakan falsafah atau karena saya yang memang tidak menaruh minat terhadap gaya hidup orang Jawa??

Suatu pertanyaan yang membuat saya ragu, apa saya ini asli Jawa?? Kalau ingat pengalaman saya dan beberapa saudara sepupu saya, banyak orang mengira saya Cina (maaf ini bukan bermaksud SARA) dan kuliah kedokteran. Lain saya, lain pula saudara sepupu saya, dia malah lebih mirip londo aka bule. Kulit putih, rambut kemerahan-coklat. Sudah gitu, seingat saya (atau khayalan saya saja atau saya salah lihat?) nenek saya yang dari ibu, ubannya tidak putih seperti kebanyakan orang tapi sedikit pirang sedangkan nenek dari ayah saya lebih banyak pirangnya. Hmm, makin ragu status ke-Jawa-an saya :p

Namun, setelah sekian lama saya mencoba mengingat-ingat seluruh pengalaman hidup saya, saya ingat pasti akan salah satu falsafah yang sangat saya percaya. Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karsa, tut wuri handayani yang artinya kurang lebih yang di depan memberi contoh, yang di tengah mengerjakan/membimbing, yang terakhir mendukung/mendorong. Itu salah satu falsafah hidup orang Jawa yang saya ingat.hehehehe. Gara-gara saya stres mencari falsafah hidup orang Jawa itu, saya berbincang dengan ayah saya..

F: bi, apa sih falsafah hidup orang Jawa itu?

A: hmm,apa ya? Yaaa... banyak... kenapa?

F: gk papa. Cuma ngerasa minder aja, teman-teman Beswan yang dari luar Jawa tau apa falsafah hidupnya, kok aku malah gak tau yaa??

A: falsafah jawa itu banyak banget. Salah satunya mangan gak mangan asal kumpul.

F: lah, tapi itukan udah gak berlaku lagi jaman modern seperti sekarang... yang masih berlaku sampai sekarang??

A: apa yaaa?? Gak tau juga Fik..

F: hmmm....

Yah, begitulah percakapan ayah dan anak :D

Eniwei, beberapa waktu yang lalu saat menonton acara Satu Jam Lebih Dekat dengan Sujiwo Tedjo, saya jadi tau satu lagi falsafah Jawa, yang kata beliau merupakan wejangan dari Semar “jangan takut hidup kekurangan. Karena hidup ini demi memenuhi kebutuhan orang lain. Ketika kamu kekurangan maka akan dipenuhi oleh yang lainnya” yang intinya adalah berusaha membantu orang lain semampu kita meski kita dalam keadaan rezeki yang sempit, karena saat kita kekurangan harta akan selalu ada yang mampu mencukupinya. Hmmm, jadi makin pusing kebanyakan falsafah :p hehhehehe

No comments: