Wednesday, June 15, 2011

Harga Mahal Sebuah Kejujuran

Pembaca yang budiman, beberapa waktu ini Surabaya digegerkan akan kasus nyontek massal. Untuk selengkapnya baca di sini.

Dari berita tersebut, ada hal menarik yang ingin saya share ke pembaca. Dalam masa sekarang, tidak sudah sejak dahulu ketika manusia mulai hidup bermasyarakat, telah mengenal adanya kecurangan. Bagi saya, kecurangan merupakan hal yang disengaja, bahkan terencana (kalau dalam bahasa hukum dikenal adanya pembunuhan berencana, maka ini saya katakan kecurangan terencana). Pemerintah melalui Mendiknas, telah menetapkan standar baru dalam kelulusan siswa SD, SMP, SMA. Sekolah, sebagai lembaga yang ditunjuk guna mendidik dan mengajar anak-anak usia sekolah (7-18 tahun) seolah berlomba-lomba untuk mencetak siswanya menjadi siswa berprestasi, tidak hanya di dalam sekolah tapi juga di luar sekolah. Ketika kebijakan standar nilai yang baru untuk lulus diberlakukan, sekolah pun harus putar otak bagaimana caranya agar nama baik mereka tetap terjaga (biasanya ini dialami oleh sekolah-sekolah favorite, namun sekolah yang "biasa-biasa" juga perlu untuk menjaga nama baiknya, jangan sampai disebut sekolah tidak bermutu). Salah satu upayanya adalah mencetak lulusan yang memiliki nilai kelulusan di atas standar alias tinggi, yah, meski tidak tinggi-tinggi amat setidaknya dapat mencetak siswa yang memiliki nilai baik (kategori >=7). Selain mencetak lulusan yang memiliki nilai di atas standar, juga diharapkan siswa-siswanya masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yang juga difavoritekan masyarakat. Nah, nantinya, proses kelulusan di sekolah yang bersangkutan juga akan berlaku demikian..

Contek menyontek akan selalu berputar, bagaikan lingkaran setan. Hmm, ini yang menjadi concern saya. Demi menjaga citra baik sekolahan, demi menggolkan siswa-siswanya masuk ke sekolah yang baik pula, segala cara dihalalkan.. masha allah..
Maksud saya, pencitraan tersebut dibangun dengan pondasi kecurangan. Memang, tidak dapat saya pungkiri bahwa dalam satu sekolah, ada siswa yang menonjol akademiknya, ada yang tidak, bahkan ada juga yang semua siswanya "parah". Memang, tidak dapat saya pungkiri juga, bahwa ketika unas tiba, siswa yang menonjol akademiknya akan memiliki beban khusus, yakni menolong (atau mungkin lebih tepat "menolong") teman-temannya, dari yang hanya sekelas, menyebar ke seluruh sekolah. Intinya, agar semua siswa yang mengalami unas dapat lulus. Tentu, saya juga tidak dapat menyalahkan hal ini, hal yang mulia memang menurut pandangan saya. Juga tugas berat guru untuk dikatakan berhasil mencetak siswa yang pandai..

Lalu, akan menjadi dilema yang teramat berat bagi si joki untuk membantu temannya lulus, untuk juga menjaga citra baik sekolah, dan pastinya jika siswa tersebut dididik oleh orang tuanya untuk selalu berlaku jujur. Mau membantu biar teman-temannya lulus itu baik namun tindakan nyontekin itu curang alias tidak jujur (yang pasti bertentangan dengan nurani si anak)..
Sangat baik memang jika anak tersebut tidak sampai frustasi maupun depresi dikarenakan hal ini. Seperti kata salah seorang narasumber bincang-bincang di TV, bahwa kontrol emosi si anak sudah cukup baik, dan bahwa dia menyadari posisinya yang sangat dilematis.
Sejalan dengan pendapat narasumber lain, bahwa hal ini juga akan berakibat domino pada kehidupan si anak. Seperti yang telah terjadi saat ini, akibat protesnya orang tua si anak ke Diknas Surabaya, keluarga mereka malah diusir dari lingkungan rumahnya bahkan dihujat, dicaci maki oleh mereka. ckckckck, kalau mereka mengatakan dimana nurani si ibu, maka dimana nurani masyarakat untuk membuka mata lebar-lebar terhadap kecurangan-kecurangan yang ada..?????

Akibat domino yang lain, tentu saja akibat dibawanya kasus ini ke publik, maka semua orang di Indonesia bahkan luar negeri mungkin, mengetahuinya, sehingga apabila nanti si anak akan pindah sekolah ke tempat lain, ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, sekolah yang menjadi tujuan si anak akan mempertimbangkannya, apakah itu nanti pertimbangannya dapat tidaknya si anak untuk diajak "bekerja sama" atau mungkin akan menjadi suatu kebanggaan bahwa seorang anak yang "langka" bersekolah di sekolah mereka. Ya, kejujuran adalah barang langka di jaman sekarang ini =(
Untuk masalah sekolah ini, saya jadi berpikir tentang home schoolling.. Apakah sekolah macam ini sudah mendapat sertifikasi dari Kemendiknas? Apakah setelah dianggap lulus nanti, akan mendapat ijazah yang dapat dipakai untuk melamar sekolah/perguruan tinggi/kerja? Masih banyak pertanyaan yang ada dalam otak saya saat ini...

Kemudian, masalah lain yang mengganjal, seperti apakah arti guru saat ini? Guru yang menghalalkan segala cara demi membawa anak-anak didiknya lulus dengan nilai baik, demi menjaga nama baik sekolahan, demi menegakkan apa yang mereka sebut "disiplin" atau mungkin "kehormatan", demi memuaskan rasa dalam hati... Namun, rasa apa yang perlu mereka puaskan? Bukankah mereka mengetahui bahwa tindakan itu adalah kecurangan, merupakan hal yang mestinya tidak dilakukan..?? DIMANA NURANI MEREKA SENDIRI??

Benar pikir saya, masyarakat kita telah sakit, sakit yang mendarah daging yang menurun ke generasi berikutnya, sakit yang sangat parah yang belum ditemukan obatnya saat ini...

Untuk itu, saya jadi berpikir, alangkah perlunya bagi kita, anggota masyarakat untuk dapat kembali meninjau arti dari "sekolah favorite". Apakah sekolah favorite itu mengajarkan dan mengimplementasikan nilai-nilai moral itu ke anak didiknya? Apakah sekolah favorite itu hanya semata bertujuan agar mencetak siswa-siswa yang memiliki otak encer untuk dapat melanjutkan ke sekolah favorite "yang lain"...? Atau apakah sekolah itu perlu dibuat pengelompokan kualitasnya?? Duuuhh, kok makin ribet aja nih pikiran saya. hehehehhe

Well, saya tidak dapat menyalahkan mereka. Baik sekolah, masyarakat, keluarga korban, pemerintah. Semua ikut andil memiliki kesalahan..




No comments: